Kemarin hari kemudian, ketika Prima sedang kuliah, aku sengaja menggeledah kamarnya. Tanaman hias apalagi, wajib diperperbuat dengan rajin serta cermat. Bokep terbaru Menatapku dengan bola mata bergoyang. Di dalam kamar mandi kutanggalkan celana dalamku, satu-satunya benda yang sejak tadi tetap kubiarkan melekat di tubuhku. Hanya kota kecil yang belasan kilometer jaraknya kalau mau menuju kota besar. “Enak nenen bunda ?” godaku ketika Prima giat-giatnya menyedot-nyedot pentil tetekku. Terutama Nanda jangan sampai tau.”
“Iya…iya Bunda…tapi…ada apa Bun ?” tanya Prima dengan tatapan bersorot ragu. Siapa tau bunda bisa bantu cari jalan keluarnya.” Tiba-tiba Prima turun dari bedku.Lalu berlutut di lantai, sambil menempelkan wajahnya di lututku. Dan aku bergegas mengenakan kimono, tanpa mengenakan beha terlebih dahulu. Seusai menghuni rumah yang disediakan oleh suami baruku, aku merasa bahwa aku tidak jatuh ke tangan yang salah. Kalau salah didik serta pengawasannya, mungkin saja tenggelam ke dalam arus pergaulan yang tidak sehat. “Taulah…soalnya sejak saat itu kamu suka bermurung-murung dan jarang bicara.”
“Iya Bunda…tebakan Bunda benar…”
“Nah…sekarang bunda mau diapain kalau sudah begini ?” tanyaku sambil menciumi pipinya. Tapi akhirnya ia melepaskan celana pendek dan celana dalamnya. Sejak aku menjadi istri Kang Eman, ke mana-mana aku suka dikawani oleh Prima. Lalu duduk sambil menatapku… memandang dari ujung kaki sampai kepalaku. Punya anak cowok di zaman kini terbukti tidak gampang mengawasinya.















