Tanpa disuruh Syeni langsung menuju tempat periksa, duduk, mengangkat kakinya, dan langsung berbaring. Bokep live Syeni lalu membuka kakinya. ‘Cukup Bu” kataku sambil mengembalikan cup ke tempatnya. Aku bangkit. Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Ah . Lin Chin Shia nama bintang film itu, kalau engga salah eja. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya. Umurku sekarang menjelang 30 tahun. “habis Dok”
Dia langsung berberes. Lemas lunglai. Lalu dituntunnya aku menuju meja kerjaku. “Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku. Penisku kok bangun lagi. Kaos yang dipakainya tak berkancing. Please . masa .. Tapi kaki Syeni menjepitku, menahan aku mencabut penisku. “Ini Dok . “Saya engga tahu Dok”
“Bisa Ibu periksa sendiri. Kaos yang dipakainya tak berkancing. Syeni bergoyang bagai naik kuda . Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Yang tidak biasa adalah Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. Dengan agak gugup memintaku untuk mencabut, lalu meraih Hpnya sambil memberi kode supaya aku diam. Ini pasien terakhir. Sjeni memang ibu muda yang belum punya anak. Pasien bervariasi umur dan status sosialnya. Aku makin “pusing” …
Kemana CD-nya ? Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya.















