Cambukan demi cambukan menghajar pantat Dian, meninggalkan garis-garis merah. Apa saja Bos, yang penting jangan rusak toko saya. Bokep india Dian pun menjerit kesakitan. Terlihat bekas merah di pantatnya yang putih mulus itu. Aku hanya bisa berteriak kaget melihat alat-alat yang dibawa di tas itu.“Minggir sebentar,” kata si Botak. Setelah sekujur tubuh Dian penuh dengan luka dan bekas merah, ia pun jatuh pingsan karena kesakitan.Ketiga preman itu melirik Felia yang sedari tadi mereka ikat di kursi meja makan.“Mainan yang satu udah abis bro, mau maen yang satu lagi. Saya gak mau anak saya nikah sama preman bangs*t kayak lo orang!”Si hitam pun marah seketika. Lagipula dia sudah tidak perawan.” kataku, berusaha untuk berbohong.Si hitam hanya tertawa mendengar kebohongan saya. Pokoknya bayar hari ini juga, atau toko lo gua obrak-abrik!”“Jangan, Bos, jangan sekarang, saya janji saya bakal bayar. Si Kumis lalu keluar ke tokoku, lalu kembali dengan beberapa botol minuman bersoda, lengkap dengan t,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Mereka lalu memainkan jarinya di atas vagina Felia yang masih berupa garis dan belum ditumbuhi bulu, namun gundukan kecil itu nampak begitu mempesona bagi preman2 bejat itu. Si Kumis bahkan menyumpal mulut saya dengan celana dalam Felia agar saya tidak bisa berkata2. Namun, usaha saya tidak begitu mulus beberapa bulan terakhir, sehingga saya tidak sanggup membayar uang “keamanan” yang kian















