Dadaku mulai berdegup lagi. Bibirku melumat bibirnya.“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan sergapanku. Bokep Viral Si Junior melemah. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Yes.., akhirnya. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Sial. Apa katanya nanti? Masih ada waktu bebas dua jam. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Keberuntungankah? Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Ah masa bodo. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Tapi masih terhalang kain celana. Wajahku merah padam. Dadaku mulai berdegup lagi. Kaki disandarkan di dinding. Jendela kubuka. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Dadaku berguncang. Lalu ia memijat lutut. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Makin lama makin jelas. Ia tidak bercerita apa-apa.















