Ia kerja di sana? Bokep jepang Toket itu dari jarak yg cukup dekat jelas membayang. Betisnya mulus ditumbuhi bulubulu halus. Tetapi berlari. Hanya suara kebetan majalah yg kubuka cepat yg terdengar selebihnya musik lembut yg mengalun dari speaker yg ditanam di langitlangit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletakpletokpletok. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Dingin. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit. Lalu memeknya, basah sekali. Dadaku tibatiba berdegupdegup.Bang, Bang kiri Bang..!Semua penumpang menoleh ke arahku. Padahal, wajah wanita setengah baya yg di lehernya ada keringat sudah terbayang. Garis setrikaannya masih terlihat. Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Aroma asli seorang perempuan. Ia tdk membalas tapi lebih ramah. Jagain sebentar ya..!Ya itulah kabar gembira, karena Iin lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Iin kembali ke tempatku. Sudah 3 tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Bau tubuhnya tercium. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aq hanya mendengus. Aq tiduran sambil baca majalah yg tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu.















