Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Bokep india Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Aku tidak berani menatap wajahnya. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Mendadak jari tanganku dingin semua. Jendela kubuka. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Ia cukup lama bermain-main di perut. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Dari atas: Turun. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Come on lets go! Wajahku merah padam. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Dan kubuka celana pantai.















