Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang jemari tangan kirinya meremas-remas buah kemaluanku. Obrolan di telepon membuat pikiranku bertambah jorok. Bokep live “Kamu udah gede, kamu udah boleh, Van…”Entah bagaimana, nafsuku kembali berkobar. Tapi bagaimanapun Tante Ning mengalami kesulitan karena aku masih setengah hati.Tante Ning menciumi mukaku. Aku kini benar-benar tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Tanteku. Kata Tante Ning,“Selama ini kamu baik sekali sama Tante. “Itu kado spesial dari Tante,” katanya lembut. “Tapi kalau kamu mau yang lain, kamu boleh minta. Nafsuku berkobar-kobar lagi.Tante Ning mengajakku masuk ke kamar. Tapi bagaimanapun Tante Ning mengalami kesulitan karena aku masih setengah hati.Tante Ning menciumi mukaku. Pikiran jorokku bertambah. “Kamu udah gede, kamu udah boleh, Van…”Entah bagaimana, nafsuku kembali berkobar. Begitu Tante Ning kembali ke Surabaya, boleh dibilang hubungan kami berakhir, walaupun di awal-awal sesekali kami masih melakukannya (kalau Tante Ning datang ke Jakarta).Aku lupa, Tante Ning mengikuti pendidikan apa di Jakarta. Aku jadi semakin tidak enak hati. Dia bilang, walaupun aku tidak naik kelas, tapi aku “lulus” sebagai laki-laki. Aku jadi semakin tidak enak hati. “Betul?” tanyanya. Sambil memandangi dia berjalan ke arahku, aku berpikir, “Ngapain dia tadi masuk kamar?” Aku menemukan jawabannya beberapa saat kemudian, ketika kelihatan olehku kedua puting susunya membayang di balik daster.















