Aku beraksi dengan kameraku, mengambil pose demi pose yang sangat merangsang. Setelah mendapatkan pencahayaan yang pas, aku langsung mengambil beberapa shot manis. Bokep live Rambut pendek sebahu dengan potongan bob, leher panjang, mengenakan cardigan warna ungu muda, dalaman Kamisol warna putih berbahu rendah hingga kulit lehernya yang putih membuatku geregetan ingin menciumnya. Karena keapit dua lengannya, celah buah dadanya terlihat sangat jelas. “Kamu kulitnya bagus banget deh..!” aku iseng mengusap kulit lengannya yang indah. Sekilas tampak buah dadanya seperti besar, puting susunya mengintip samar-samar dari balik Kamisol-nya.“Ya begitu..!”
Lia tersenyum manis sekali menghadap ke kamera, rambut sebahunya jatuh ke depan menutupi sebagian wajahnya yang cantik. Semua hasil fotonya doi simpan semua termasuk yang ada di tanganku. Wajahnya kusuruh melihat ke arah kamera, lalu kujepret lagi sampai rol terakhir. Bilangnya sama si Lia cari udara segar dulu. “Gue harus gimana..?” tanyanya. Aku tidak kepikir lagi untuk mengatur cahaya dengan light meter saku, pokoknya segala macam teori kompensasi cahaya sudah hilang di kepalaku karena otakku setengah sadar setengah terangsang.Tapi aku tidak perlu khawatir, karena aku mengandalkan kecanggihan kameraku yang bukaan lensa serta speed-nya ku-set mode auto. Mengikuti permainannya yang keras, aku pergencar remasan tanganku ke buah dadanya, putingnya kupilin-pilin. Arahin dong..!” pintanya. Motor drive yang kusetel 2 shot perdetik memboroskan isi film-ku. Kedua tangannya tetap mengangkat















