Darah seketika muncrat ke mana-mana. Bokep india “Beli ini, Pak, beli ini, Bu,” kata anak laki-laki itu. Anak laki-laki yang berjualan itu malah tersenyum. Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Akibatnya sebuah mobil berwarna putih yang hilang kendali menabrak anak laki-laki itu. Polos sekali. Tapi tidak semua orang di jalan raya itu lucu. Perempuan yang mengenakan jas hujan itu masuk, meninggalkan lelaki yang tadi. Ada sedikit rasa kagum melihat anak itu. Aku tetap bertahan di tempatku berdiri, tetap menyaksikan anak laki-laki penjual kantong plastik di dekat tiang lampu merah yang juga masih berjualan. Tiap kali dia berkata begitu, dia selalu menyertakannya dengan merendahkan bahu. Ketika hujan datang, aku membasah. Anak laki-laki itu juga ikutan merokok. Tapi seperti yang aku katakan, aku tetap bertahan pada tempatku berdiri. Polos sekali. Mereka kemudian pergi ke tempat yang dituju. Kisah-kisah miris semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari. Sedikit-sedikit oleng ke kiri, atau oleng ke kanan. Beberapa di antara mereka malah lebih menakutkan daripada hantu-hantu yang bergentayangan di rumah-rumah tua. Dia punya usaha untuk hidup.















