Menatap lurus wajah cowok yang menggenggam tanganku.“Oke saya ulang pesanannya ya: ice lemon tea satu, air mineral gak dingin satu,” pelayan mengonfirmasi pesanan kami. Berhubung sekarang sudah lewat tengah malam dan tampaknya ini satu-satunya kamar yang tersisa, dia pun mengiyakan. Bokep jepang “Kalau aku boleh nebak, yang kamu tahu soal seks hanya sebatas yang kamu baca dari cerpen-cerpen dewasa kan?”Aku terdiam memerhatikan tebakannya.“Diam berarti iya,” katanya melanjutkan. bangsat kamu muka innocent tapi jago banget nyeponggggghhhh…” dia bergumam gak jelas.Ocehannya makin tidak jelas saat kugunakan tanganku untuk membantu mengocok penisnya. Malam ini akan jadi malam yang panjang buatku.“Mau gak?” dia bertanya sekali lagi.“Iya…hhhh…” jawabku. Seorang dokter muda yang setengah jam lalu masih perawan dan innocent, kini bertekuk lutut dengan vagina yang berkedut-kedut meniktmati sisa-sisa orgasme yang masih terasa.Kemudian dia mencabut penisnya dan naik ke atas kasur. Bahkan 30 detik setelah aku duduk pun kami masih terdiam masing-masing. Kontrakanku cuma 10 menit jalan kaki kok dari sini. Dia membayar kamar tersebut.“Kok hotel pada penuh ya?” tanya dia saat menekan pin kartu debitnya di mesin EDC.“Lagi ada munas partai pak, jadi banyak tamu yang datang.”“Ohh… Pantesan banyak bendera partai di pinggir jalan.”“Ini kuncinya,” kata si resepsionis. “Karena kamu percaya aku.. Bahkan dia mengaku telah beberapa kali menjadikanku fantasi seksualnya.Jujur aku tersanjung mendengar pengakuannya.















