“Ibu cantik”, jawabku pendek. Bokep jepang Kagetku berangsur pulih, aku mengangguk sambil berusaha menenangkan diri. Tubuh Mbak Titis masih bergetar beberapa saat. Aku balik dulu ya”, kata Rani. Bibirku terus bermain di bibir Mbak Titis beberapa lama. Dan tangan kanan kirinya sekarang menyusup di balik kemejaku, mengusap halus putingku. Payudaranya masih tertutup beha putih tapi itu sudah cukup untuk membangkitkan penisku. Setelah itu aku naik ke lantai 2 untuk mematikan pemancar dan menyerahkan kunci studio. “Marketingnya lagi keluar semua, Mas?”
Aku kaget bukan main mendengar pertanyaan itu. Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah. Nikmat banget. Tanpa pikir panjang kuhampiri Mbak Titis dan berlutut di depannya. Payudaranya tidak besar, sama sekali tidak besar. Bener-bener sesuai ama yang kuharapkan. Aku sudah tidak tahan lagi. Lampu di ruanganku sudah sejak tadi kumatikan sehingga tidak ada yang tau kalo aku masih ada di situ. Aku langsung kesengsem abis. Lidahku mulai menerobos masuk ke dalam mulut Mbak Titis. “Oh… Mas… Shh… sh…”
Ciumanku terus naik mendekati pangkal pahanya. “Oh, rapat lagi ya bu di Jakarta?”, tanyaku asal-asalan. Bibirku terus bermain di bibir Mbak Titis beberapa lama. Apapun buat Mbak!”, jawabku sambil berkelakar.Itu adalah kisah pertamaku dengan Mbak Titis, istri bosku. Kupandangi sejenak tetek Mbak Titis yang sedari tadi belum kusentuh sama sekali. Sampai di tetek yang sebelah kiri kukecup pelan putingnya.















