Aku mengurungkan niatku. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Bokep indo Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Ke bawah lagi: Turun. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Creambath? Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih menumpuk. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Bicara apa? Sudahlah. Membuang napas. Bicara apa? Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Dan kubuka celana pantai. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Bau tubuh wanita setengah baya yang yang meleleh oleh keringat. Membuang napas. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus.















