Pikiranku kotor terus. Kukunci pintu kamar, mematikan lampu, dengan perasaan campur aduk.Beberapa saat kemudian kudengar langkah kaki kak Dewi di tangga menuju kearah kamarku. Bokepviral Tapi aku gak berani. tapi matanya itu ! Namun tak urung ia mendekatiku, dan menerima gagang telepon yang kusodorkan.“Haloo..”,Aku bergegas pergi, tak ingin mengganggu “sepasang kekasih” yang telepon-an. Namun tatapan liarku kearah dada ka Dewi sungguh dinterpretasikan oleh kak Dewi.“Kakak tahu kok apa yang Tedy inginkan, sini…!”, kak Dewi menepuk spring bad, mungkin maksudnya menyuruhku duduk disampingnya. Ia menggeliat-geliat kesana kemari. Kalau kak Dewi melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Lalu buru-buru meninggalkan kamar kak Dewi !“Anjing…!, brengsek “, kataku sambil meninju dinding.“Bodoh, bodoh !”, aku mengutuk diriku sendiri. Akupun bergegas menghabiskan sisa makananku.“Kak, maafin Tedy yah !”, kataku sambil meletakan gelas yang airnya habis kuteguk.Kak Dewi tak bersuara, tapi matanya menatapku, penuh keheranan dan tanda tanya, atau mungkin tatapan apa itu artinya.Entahlah.Beberapa hari kemudian setelah situasi dirumah mulai terasa normal, malam itu kak Dewi diruang tengah nonton TV atau mungkin membaca majalah. Gak usah beneran, cukup saling bikin happy aja. Ia Menggeliat-geliat sementara kedua tangannya mendekap kepala kak Dewi. Kak Dewi benar-benar terhenyak. Kemudian kak Dewi muncul dari balik selimut, ia nampak mengelap mulutnya dengan selimut.















